Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Mei 2012

Pendidikan Menurut . Friederich Wilhelm Froebel


BAB II
PEMBAHASAN


A. Friederich Wilhelm Froebel (1782-1852)
Froebel lahir di Jerman, dan mengabdikan kehidupannya guna mengembangkan suatu sistem mendidik. Anak. Froebel dianggap sebagai bapak dari pendidik anak usia bayi, selain itu dikenal karena menciptakan garden of chldren atau kindegarten (taman kanak-kanak) yang berarti kebun milik anak di

Memotivasi Masyarakat Desa Menuju Hidup Sejahtera


PENDAHULUAN

       Menurut Sumadilaga ( dalam Junaidi, 2009 ) menggambarkan masyarakat desa sebagai masyarakat tradisional yang memiliki ciri - ciri sebagai berikut:
1.      Afektifitas ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta, kesetiaan dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap tolong menolong, simpati dan menolong tanpa pamrih.
2.      Orientasi kolektif sifat ini merupakan konsekuensi dari afektifitas, yaitu mereka mementingkan kebersamaan, tidak menonjolkan diri, tidak suka akan perbedaan pendapat, pada intinya semua harus memperhatikan persamaan.
3.      Partikularisme pada dasarnya adalah  semua hal yang ada hubungannya dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok tertentu saja.
4.      Askripsi yaitu hubungannya dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.
5.      Kekabaran yaitu masyarakat menggunakan bahasa tidak langsung untuk menunjukkan sesuatu.
      Apakah benar masyarakat desa terbelakang……. ? Ada yang mengatakan mereka justru lebih inovatif  dan berpikiran kritis. Orang-orang sering mengatakan “masyarakat Desa” punya banyak permasalahan terutama kemiskinan. Hampir semua data dan laporan menuliskan, angka keluarga miskin mencapai 75 % dari jumlah keluarga yang ada.  Padahal kalau kita melihat realita di lapangan,  sebenarnya angka yang dilaporkan itu terlalu terpaut jauh. Diduga ini karena pengaruh penentuan kriteria tingkat kesejahteraan  oleh berbagai dinas/instansi dalam memberikan paket bantuan sehingga menyebabkan banyak orang yang menyatakan dirinya miskin.
       Salah satu cara kita sebagai calon sarjana Pendidikan Luar Sekolah untuk mengubah keadaan  masyarakat desa  tersebut adalah dengan memotivasi.
Motif seringkali diartikan dengan istilah dorongan. Dorongan atau tenaga tersebut merupakan gerak jiwa dan jasmani untuk berbuat. Jadi motif tersebut merupakan suatu driving force yang menggerakkan manusia untuk bertingkah- laku, dan di dalam perbuatanya itu mempunyai tujuan tertentu.Setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia selalu di mulai dengan motivasi (niat).
1.      Menurut Wexley & Yukl (dalam As’ad, 1987) motivasi adalah pemberian atau penimbulan motif, dapat pula diartikan hal atau keadaan menjadi motif.
2.      Sedangkan menurut Gray (dalam Winardi, 2002) motivasi merupakan sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu.
3.      Morgan (dalam Soemanto, 1987) mengemukakan bahwa motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek- aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah: keadaan yang mendorong tingkah laku ( motivating states ), tingkah laku yang di dorong oleh keadaan tersebut ( motivated behavior ), dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut ( goals or ends of such behavior ).
4.      McDonald (dalam Sardiman, 1986) mendefinisikan motivasi sebagai perubahan tenaga di dalam diri seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi- reaksi mencapai tujuan. Motivasi merupakan masalah kompleks dalam organisasi, karena kebutuhan dan keinginan setiap anggota organisasi berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini berbeda karena setiap anggota suatu organisasi adalah unik secara biologis maupun psikologis, dan berkembang atas dasar proses belajar yang berbeda pula.
5.      Soemanto (1987) secara umum mendefinisikan motivasi sebagai suatu perubahan tenaga yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi- reaksi pencapaian tujuan. Karena kelakuan manusia itu selalu bertujuan, kita dapat menyimpulkan bahwa perubahan tenaga yang memberi kekuatan bagi tingkahlaku mencapai tujuan,telah terjadi di dalam diri seseorang.



PEMBAHASAN

       Sesungguhnya masyarakat desa itu memiliki banyak potensi seperti tersedianya lahan pertanian, ternak dan hasil laut yang melimpah.. Apabila dimanfaatkan dengan baik, tentu potensi desa ini akan dapat memperbaiki ekonomi mereka.
       Sayangnya, memang ada beberapa kelemahan mereka yang tidak dapat kita pungkiri. Misalnya pola konsumtif yang cukup tinggi, serta lebih mengedepankan hal-hal yang praktis saja. Ini bisa terjadi karena sudah terlalu terbiasa dengan berbagai bantuan dari proyek pemerintah maupun dari pihak lain (LSM, Perusahaan dll).
       Belajar dari pola hidup mereka, sepertinya masyarakat itu sudah diracuni oleh hal-hal yang serba praktis.Pemberian  paket-paket pertanian (pupuk kimia, pestisida/herbisida, benih) menyebabkan mereka sulit untuk berusaha sehingga kesannya kalau tidak ada bantuan maka mereka tidak mau berusaha. Pekerjaan mereka hanya menunggu saja, seakan-akan nasib mereka ditentukan oleh orang lain.
       Dari hal itu maka yang perlu kita lakukan adalah dengan memotivasi mereka untuk meninggalkan pola hidup yang dirasa tidak menuju sejahtera yaitu:

1.      Dengan menyadarkan mereka bahwa mereka memiliki kekuatan baik dalam diri  mereka maupun yang berada disekitar mereka.
2.      Kekuatan yang dibangun dari masyarakat harus terus dijaga dan ini akan mendorong lahirnya satu komitmen untuk berubah mencapai kemajuan, mengatasi  ketidakberdayaan, mengejar keterbelakangan dan melawan ketidakadilan.
3.      Mereka tidak boleh mudah putus asa, karena hidup adalah sebuah perjuangan yang mana haruslah pantang menyerah agar memperoleh sesuatu yang diinginkan.
4.      Mereka memiliki lahan pekarangan. Ini dapat mereka manfaatkan dengan tanaman sayuran baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk dijual. Begitu juga dengan ternak. Mereka bisa gunakan untuk pengolahan lahan, maupun sebagai bahan pembuatan pupuk organik.
5.      Jangan takut untuk membuka usaha, karena masyarakat desa juga mempunyai potensi-potensi untuk berwirausaha.

       Jika kondisi tersebut dapat diwujudkan, maka hampir semua rumah tangga tidak ada lagi yang kekurangan pangan. Mereka dapat memperolehnya dari produksi pemanfaatan lahan pertanian maupun membeli dari perolehan usaha sampingannya, sehingga kebutuhan gizi anak dapat dipenuhi. Mereka pun dapat menggunakan layanan kesehatan untuk mengobati anak-anak mereka jika sakit. Mimpi “mewujudkan kehidupan anak Indonesia yang lebih baik” benar-benar menjadi satu kebanggaan tersendiri.
       Selanjutnya kita tidak akan berhenti pada pemenuhan kebutuhan, tetapi kita akan berbicara pada jangka waktu yang panjang.Jika suatu masyarakat sudah sejahtera maka sifatnya akan menggenerasi sehingga tidak ada lagi istilah miskin karena keturunan karena hal itu sudah dikubur dalam-dalam. Inovasi dan pikiran-pikiran kritis  akan jadi bagian dari kehidupan mereka.
       Untuk mengarahkan masyarakat desa pada “perubahan” jelas diperlukan komitmen berbagai pihak yang merasa prihatin dengan masyarakat desa., agar beberapa proses pemberdayaan betul-betul dilakukan. Jangan malah sebaliknya membuat mereka tidak berdaya dan  masyarakat ditipu. Transparansi dan menanamkan nilai-nilai kejujuran serta keadilan  menjadi hal penting untuk ditempatkan pada posisi yang paling tinggi. Ini pun akan menjadi teropong yang akan mengarahkan jalannya kegiatan menjadi lebih baik.


KESIMPULAN

       Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah merupakan sejumlah proses- proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu, baik yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi.


DAFTAR PUSTAKA
Sardiman. 1986. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Siagan, Sondang P. 2004. Teori Motivasi Dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Ali, madekhan. 2007. Orang Desa Anak Tiri Perubahan. Malang: Averroes Press.  

Perkembangan Anak Usia Dini


Pendahuluan

Pendidikan Anak Usia Dini adalah upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikam lebih lanjut.
Untuk mendidik anak agar ank dapat mengembangkan semua potensi yang ia miliki maka kita perlu memperhatikan perkembangan anak itu sendiri.  Perkembangan berlangsung secara berkesinambungan sejak saat pembuahan hingga kematian. Pada periode sebelum lahir perkembangan berlangsung sangat cepat, yang terutama terjadi secara fisiologis dan terdiri dari pertumbuhan seluruh struktur tubuh.
Banyak orang menggunakan istilah “pertumbuhan” dan “perkembangan” secara bergantian. Dalm kenyataan kedua istilah tersebut berbeda, walaupun dapat dipisahkan, namun keduanya tidak bisa berdiri sendiri. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan ukuran ukuran dan struktur. Tidak hanya anak itu menjadi lebih besar secara fisik, tetapi ukuran dan stuktur organ dalam dan otak meningkat. Akibat adanya pertumbuhan otak,anak itu mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk belajar, meningkat dan berpikir. Anak tumbuh, baik secara mental maupun fisik.



Pembahasan

A.    Perkembangan Anak Pada Usia 1-6 Tahun
Perkembangan berlangsung secara berkesinambungan sejak saat pembuahan hingga kematian. Pada periode sebelum lahir perkembangan berlangsung sangat cepat, yang terutama terjadi secara fisiologis dan terdiri dari pertumbuhan seluruh struktur tubuh. Klasifikasi usia anak menurut Elizabeth B. Hurlock dan dapat dilihat pada tabel berikut:
1. Masa Neonatus
Lahir sampai berusia 10-14 hari
2. Masa Bayi
2 minggu sampai 2 Tahun
3. Masa Kanak-Kanak
- Masa kanak-kanak dini
- Akhir masa kanak-kanak
2 tahun – remaja
2-6 tahun
6-13/14 tahun
4. Masa remaja
14-16 tahun
Tabel Klasifikasi usia anak menurut Elizabeth B. Hurlock
Pada masa periode bayi yang baru lahir, selama waktu ini bayi menyesuaikan diri dengan lingkungan yang seluruhnya baru diluar rahim ibu, untuk masa bayi yaitu 2 minggu sampai 2 tahun bayi tidak berdaya, secara bertahap mereka belajar mengendalikan ototnya sehingga mereka secara berangsur dapat bergantung pada dirinya sendiri sedangkan pada masa kanak-kanak yaitu 2 tahun sampai masa remaja periode ini biasanya terdiri atas dua bagian yaitu masa kanak-kanak dini (2 sampai 6 tahun) adalah usia prasekolah, dan akhir masa kanak-kanak (6 sampai 13 tahun pada anak perempuan dan 14 tahun pada anak laki-laki) ini adalah periode dimana terjadi kematangan seksual, sebelum masa kanak-kanak berakhir tubuh anak telah mempersiapkan diri untuk memulai tahap pematangan kehidupan kelaminnya, saat inilah yang dikenal dengan sebutan remaja atau pubertas.
Pada masa lampau, emosi baisanya diabaikan dalam studi mengenai perkembangan anak. Tetapi sekarang emosi merupakan konseptualisasi yang semakin penting dalam perkembangan. Bahkan bayi-bayi menunjukkan gaya emosional yang berbeda, memperhatikan tempramen yang berbeda, dan juga membentuk ikatan emosional terhadap pengasuhnya. Dua macam emosi yang paling umum pada masa kanak-kanak ialah kemarahan dan ketakutan. Pada umumnya kemarahan diekspresikan dengan tindakan impulsif yang pada anak kecil biasanya disebut agresi dan pada anak yang lebih tua reaksi itu cenderung ditahan Rasa marah adalah ekspresi yang lebih sering diungkapkan pada masa kanak-kanak jika dibandingkan dengan rasa takut. Alasannya ialah karena rangsangan yang menimbulkan rasa marah lebih banyak, dan pada usia yang dini anak-anak mengetahui bahwa kemarahan merupakan cara yang efektif untuk memperoleh perhatian atau memenuhi keinginan mereka. Yang umum menimbulkan rasa takut pada masa bayi ialah suara yang keras, binatang, kamar yang gelap, tempat yang tinggi, berada seorang diri, rasa sakit, orang yang tidak kenal, tempat dan obyek yang tidak kenal. Anak kecil lebih takut kepada benda-benda dibandingkan dengan bayi atau anak yang lebih tua.
            Ada sejumlah pola emosi yang berkaitan dengan rasa takut yaitu :
Ø  Rasa malu merupakan bentuk ketakutan yang ditandai oleh penarikan diri dan hubungan dengan orang lain yang tidak dikenal atau tidak sering berjumpa.
Ø  Rasa canggung seperti halnya rasa malu, rasa canggung adalah reaksi takut terhadap manusia, bukan pada obyek atau situasi, rasa canggung merupakan keadaan khawatir yang menyangkut kesadaran diri.
Ø  Rasa khawatir biasanya sebagai khayalan ketakutan atau gelisah tanpa alasan. Rasa khawatir timbul karena membayangkan situasi berbahaya yang mungkin akan meningkat, kekhawatiran adalah normal pada masa kanak-kanak.
Ø  Rasa cemas ialah keadaan mental yang tidak enak berkenaan dengan sakit yang mengancam atau yang dibayangkan, pada kecemasan ini anak mengalami keadaan takut yang ringan setiap menghadapi situasi yang dianggap sebagai ancaman yang potensial.
Dari umur 2 sampai 6 tahun, anak belajar melakukan hubungan sosial dan bergaul dengan orang-orang di luar lingkungan rumah, terutama dengan anak-anak yang umurnya sebaya. Mereka belajar menyesuaikan diri dan bekerja sama dalam kegiatan bermain. Pada masa ini sejumlah hubungan yang dilakukan anak dengan anak-anak lain meningkat dan ini sebagian menentukan bagaimana gerak maju perkembangan sosial mereka. Setiap tahun berganti, anak kecil semakin kurang menggunakan waktunya untuk bergaul dengan orang dewasa. Pada saat yang sama minat mereka terhadap teman sepermainan yang berusia sebaya semakin bertambah dan juga kesenangannya. Disamping itu juga perlu diperhatikan perkembangan motorik anak. Perkembangan motorik berarti perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot yang terkoordinasi. Pengendalian tersebut berasal dari perkembangan refleksi dan kegiatan massa yang ada pada waktu lahir. Sebelum perkembangan tersebut terjadi, anak akan tetap tidak berdaya. Dan perkembangan motorik ini terbagi menjadi  perkembangan motorik kasar yaitu gerakan yang dilakukan melibatkan sebagian besar tubuh dan biasanya memerlukan tenaga karena dilakukan oleh otot-otot besar , sedangkan motorik halus adalah gerakan yang dilakukan bila hanya melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan oleh otot-otot kecil. Selain perkembangan motorik kesehatan anakpun harus diperhatikan, kesehatan ini meliputi fisik dan nonfisik.
Sebagian besar ketidak berdayaan bayi yang baru kahir berasal dari ketidakmampuan mereka untuk menyatakan kebutuhan dan keinginan mereka dalam bentuk yang dapat dipahami oleh orang lain dan ketidakmampuan mereka memahami kata dan isyarat yang digunakan orang lain. Ketidakberdayaan ini berkurang dengan cepat pada awal tahun kehidupan, pada waktu anak dapat mengendalikan otot yang diperlukan bagi berbagai mekanisme untuk berkomunikasi.
Kemampuan bicara memenuhi kebutuhan penting lainnya dalam kehidupan anak, yakni kebutuhan untuk menjadi bagian dari kelompok sosial. Walaupun dengan cara lain mereka mungkin mampu berkomunikasi dengan anggota kelompok sosial, sebelum mereka mampu berbicara dengan anggota kelompok, peran mereka dalam kelompok tersebut akan kecil.
Bentuk – bentuk kominikasi anak:
·         Tangisan; “menangis merupakan salah satu cara pertama yang dapat dilakukan bayi untuk berkomunikasi dengan dunia luas” ( Oswald dan Peltzman )
·         Ocehan dan celoteh; dapat mempercepat proses belajar yang memberikan ketrampilan dasar yang diperlukan untuk mengandalikan mekanisme suara bagi ketrampilan bicara selanjutnya yang lebih rumit.
·         Isyarat; digunakan sebagai pengganti atau pelengkap bicara.
·         Ungkapan emosional; ungkapan emosi memperkuat kata – kata, dan agaknya menjadi pelengkap daripada sebagai pengganti bicara sebagaimana halnya pada waktu bayi belum dapat bicara.

B.     Pengaruh Bermain Bagi Perkembangan Anak
            Dunia anak adalah dunia bermain, bermain penting untuk penyesuaian pribadi dan sosial anak. Studi mangenai bagaimana anak bermain telah mengungkapkan bahwa bermain sepanjang masa kanak-kanak mempunyai karakteristik tertentu yang membedakannya dari permainan remaja dan orang dewasa. Walaupun karakteristik ini mungkin sedikit bervariasi. Bermain dilakukan secara suka rela dan tidak ada paksaan atau tekanan dari luar atau kewajiban. 
Menurut Elizabeth B. Hurlock (1978) bermain memberikan pengaruh bagi perkembangan anak, seperti:
Ø  Perkembangan fisik, bermain aktif penting bagi anak untuk mengembangkan otot dan melatih seluruh bagian tubuhnya.
Ø  Dorongan berkomunikasi, agar dapat bermain dengan baik bersama yang lain, anak harus belajar berkomunikasi dalam arti mereka dapat mengerti dan sebaliknya  mereka harus belajar mengerti apa yang dikomunikasikan anak lain.
Ø  Penyaluran bagi energi emosional yang terpendam, bermain merupakan sarana bagi anak untuk menyalurkan ketegangan yang disebabkan oleh pembatasan lingkungan terhadap prilaku mereka.
Ø  Penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan, kebutuhan dan keinginan yang tidak dapat dipenuhi dengan cara lain seringkali dapat dipenuhi dengan bermain.
Ø  Sumber belajar, bermain memberi kesempatan untuk  mempelajari berbagai hal melalui buku, televisi, atau menjelajah lingkungan yang tidak diperoleh anak dari belajar di rumah atau sekolah.
Ø  Rangsangan bagi kreatifitas melalui eksperimentasi dalam bermain, anak-anak menemukan bahwa merancang sesuatu yang baru dan berbeda dapat menimbulkan kepuasan. Selanjutnya mereka dapat mengalihkan minat kreatifnya ke situasi di luar dunia bermain.
Ø  Perkembangan wawasan diri, dengan bermain bersama anak mengetahui tingkat kemampuannya dibandingkan dengan temannya bermain. Ini kemungkinan mereka untuk mengembangkan konsep dirinya dengan lebih pasti dan nyata.
Ø  Standar Moral, walaupun anak belajar di rumah dan disekolah tentang apa saja yang dianggap baik dan buruk oleh kelompok, tidak ada pemaksaan standar moral paling teguh selain dalam kelompok bermain.
Ø  Perkembangan Pribadi, dari hubungan dengan anggota kelompok teman sebaya dalam bermain, anak belajar bekerja sama, murah hati, jujur ,sportif ,dan disukai orang.

Banyak ahli teori penting yang disesuaikan dibab-bab awal telah menulis tentsng fungsi permainan dalam perkembangan anak. Menurut Freud dan Erikson, bermain membantu anak menguasai kecemasan dan konflik. Karena ketegaangan mengendur dalam permainan, anak tersebut dapat menghadapi masalah kehidupan.permainan memungkinkan anak menyalurkan kelebihan energi fisik dan melepaskan emosi yang tertahan, yang meninkatkan kemampuan si anak untuk menghadapi masalah. Hingga derajat tertentu, fungsi permainan ini menginspirasi perkembangan terapi permainan, di mana terapis menggunakan permainan untuk memungkinkan anak melepaskan rasa frustrasi dan memberikan kesempatan untuk menganalisis konflik anak dan cara anak mengatasinya. Anak-anak mungkin merasa kurang terncam dann cenderung lebih mampu mengutarakan perasaan mereka dalam konteks bermain (John W. Santrock, 2007:216).  
Survei tentang berbagai jenis permainan yang dilakukan anak sangat banyak, walaupun tidak semua anak melakukan permainan yang sama.  Banyaknya kegiatan bermain, maka kegiatan ini dibagi ke dalam 2 kategori utama bermain aktif dan bermain pasif, yang umumnya disebut “hiburan”.
Dalam bermain aktif, kesenangan timbul dari apa yang dilakukan individu, apakah dalam bentuk kesenangan berlari atau membuat sesuatu dengan lilin atau cat. Permainan aktif antara lain :
Ø  Bermain Bebas dan Spontan, bermain bebas dan spontan merupakan bentuk bermain aktif yang merupakan       wadah anak-anak untuk melakukan apa, kapan, dan bagaimana mereka ingin melakukannya.
Ø  Permainan Drama, permainan drama yang seringkali disebut “permainan pura-pura” adalah bentuk permainan aktif dimana anak-anak, melalui perilaku dan bahasan yang jelas, berhubungan dengan materi atau situasi seolah-olah hal itu mempunyai atribut yang lain ketimbang yang sebenarnya.
Ø  Bermain konstruktif adalah bentuk bermain dimana anak-anak menggunakan bahan untuk membuat sesuatu yang bukan untuk tujuan bermanfaat melainkan lebih ditujukan bagi kegembiraan yang diperolehnya dari membuatnya.
Ø  Musik mungkin merupakan bermain aktif atau pasif, bergantung pada bagaimana penggunaanya.
Ø  Mengumpulkan adalah jenis kegiatan bermain yang umum dikalangan anak-anak dari semua latar belakang semua ras, agama, dan sosioekonomis. Biasanya dimulai pada tahun-tahun prasekolah, yaitu pada waktu anak berusia 3 tahun. Pada mulanya anak mengumpulkan segala sesuatu tanpa mempersoalkan kegunaannya. Kegiatan ini memberinya kesenangan untuk mengambil sesuatu dan membawanya kerumah, yang biasanya dikumpulkan bersama dengan mainan.
Ø  Mengekplorasi seperti halnya bayi yang memperoleh kegembiraan besar dari mengeksplorasi apa saja yang baru atau berbeda, demikian pula halnya dengan anak yang lebih besar.

Dalam bermain pasif atau “hiburan” ,kesenangan diperoleh dari kegiatan orang lain. Pemain menghabiskan sedikit energi. Anak yang menikmati temannya bermain, memandang hewan atau orang ditelevisi, menonton adegan lucu atau membaca buku adalah bermain tanpa mengeluarkan banyak tenaga, tetapi kesenangannya hampir seimbang dengan anak yang menghabiskan sejumlah besar tenaganya ditempat olahraga atau tempat bermain. Permainan pasif antara lain :
   Membaca jauh sebelum anak mampu membaca dan sebelum mereka mampu mengerti arti setiap kata kecuali yang sederhana, mereka ingin dibacakan. Sampai mereka dapat membaca dengan usaha sendiri.
   Menonton Film, kebanyakan anak prasekolah kurang mengerti apa yang diperlihatkan dilayar  film sehingga tidak dapat memuaskan perhatiannya sepanjang pertunjukan. Tentu saja hal ini tidak berlaku bagi film yang diputar khusus bagi tingkat usia mereka. Film yang mempunyai unsur menegangkan yang menampakkan adegan tembakan ataupun keributan, banyak anak prasekolah menjadi takut. Tanpa menyadari bahwa adegan itu hanya sandiwara, mereka sering menutup mata dan menangis ketakutan.
   Mendengarkan musik, bayi senang dinyanyikan atau mendengarkan musik, kesenangan ini meningkat dengan bertambahnya usia anak dan mencapai titik puncaknya pada masa remaja ketika perhatian dalam bermain aktif menurun.
Sudah dijelaskan diatas, bahwa menurut Elizabeth B. Hurlock bermain memberikan pengaruh bagi perkembangan anak, selain itu ada tahapan-tahapan perkembangan bermain yang dikemukakan oleh Elizabeth B. Hurlock, yaitu :
Ø  Tahap Eksplorasi
Hingga bayi berumur 3bulan, permainan mereka terutama terdiri atas melihat orang dan benda serta melakukan usaha acak untuk menggapai benda yang diacungkan dihadapannya. Selanjutnya, mereka dapat mengendalikan tangan sehingga cukup memungkinkan bagi mereka untuk mengambil, memegang, dan menpelajari benda kecil. setelah mereka dapat melangkah atau berjalan, mulai memperhatikan apa saja yang berada dalam jarak jangkauannya.
Ø  Tahapan Permainan
Bermain barang mainan dimulai pada tahun pertama dan mencapai puncaknya pada usia antara 5 dan 6 tahun. pada mulanya anak hanya mengeksplorasi mainannya. antara 2 dan 3 tahun, mereka membayangkan bahwa mainannya mempunyai sifat hidup dapat bergerak,     berbicara dan merasakan. dengan semakin berkembangnya kecerdasan anak ,mereka tidak lagi menganggap benda mati sebagai sesuatu yang hidup dan hal ini mengurangi minatnya pada barang mainan. Faktor lain yang mendorong penyusutan minat dengan barang mainan ini adalah bahwa permainan itu sifatnya menyendiri sedangkan mereka menginginkan teman. Setelah masuk sekolah, kebanyakan anak menganggap bermain barang mainan sebagai ‘permainan bayi’.
Ø  Tahap Bermain
Setelah masuk sekolah ,jenis permainan mereka sangat beragam. Semula mereka meneruskan bermain dengan barang mainan, terutama bila sendirian, selain itu mereka merasa tertarik dengan permainan, olahraga, hobi, dan bentuk permainan lainnya.
Ø  Tahap Melamun
Semakin mendekati masa puber, mereka mulai kehilangan  minat dalam permainan yang sebelumnya dan banyak menghabiskan waktunya dengan melamun. Melamun, merupakan ciri khas anak remaja, saat mereka menganggap dirinya tidak diperlakukan dengan baik dan tidak dimengerti oleh siapapun.


Kesimpulan
Perkembangan berlangsung secara berkesinambungan sejak saat pembuahan hingga kematian. Perkebangan anak usia dini meliputi perrkembangan fisik, motorik, bicara, emosi dan perkembangan sosial. Perkembangan anak juga dapat dipengaruhi oleh pola bermain mereka. Elizabeth B. Hurlock mengemukakan empat tahapan dalam perkembangan bermain anak yaitu: tahap eksplorasi, tahap permainan, tahap bermain dan tahap melamun.



Daftar Pustaka

Hurlock, Elizabath  B. 1987. Perkembangan Anak  jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Santrock, John W. 2007. Perkembangan anak jilid 2. Jakarta: Erlangga.


RUTAN HOTEL BINTANG LIMA



TUJUAN 
       Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengatahui bentuk ketidakadilan pada ranah hukum yang contohnya adalah fenomena “Hotel Bintang Lima” pada rutan. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.


ACUHAN TEORI
a.      Teori Biologis
       Menekankan faktor nature sebagai penentu perkembangan manusia: kematangan, dasar-dasar biologis perilaku dan proses mental.
b.      Teori Psikologis
       Teori ini menekankan sabab-sebab tingkah laku dari aspek psikologis dan isi kejiwaannya antara lain faktor intelegensi, ciri kepribadian, motivasi, sikap-sikap yang salah, fantasi, resonalisasi yang keliru, konflik batin,emosi yang kontroversi, kecenderungan psikologis, dll.

c.       Teori Sosiogenesis
       Tingkah laku pada manusia adalah murni sosiologis atau sosial-psikologis misalnya disebabkan oleh pengaruh stuktur sosial yang deviatif, tekanan kolompok, peran sosial, status sosial atau iinternalisasi simbolis yang keliru maka faktor-faktor kultural dalam sosial itu sangat mempengaruhi, status individu ditengah kelompoknya, partisipasi sosial dan pendefinisian diri atau konsep diri.
d.      Teori Subkultur
       Mengkait sistem nilai, kepercayaan/keyakinan, ambisi-ambisi tertentu (misalnya ambisi materiil, hidup bersantai, pola kriminal, relasi heteroseksual bebas, dll) yang memotivasi timbulnya keinginan untuk berbuat melanggar hukum.


PEMBAHASAN
Artalyta Suryani menyambut tamu pemerintah di ruang penjara ekslusif ala bintang 5  Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur (10 Jan 2010)
Jauh hari sebelum pemberitaan sidak yang dilakukan oleh Satgas Pemberantasan Mafia Hukum di Rutan Pondok Bambu pada 10 Januari 2010 silam,kisah praktik KKN dan ekslusivisme para napi  di penjara maupun rumah tahanan sudah menjadi bagian dari tradisi pengelolaan PENJARA (diganti nama Lembaga Pemasyarakatan) dan rumah tahanan (rutan). Meski reformasi bergulir beberapa tahun lamanya, namun alur amanat reformasi di bidang hukum dan peradilan terputus. Justru irama praktik mafia hukum dan peradilan terus berdenyut menutup suara nurani para pencari keadilan di negeri ini.
Ayin, Bukanlah Satu-Satunya Orang “Kuat” Indonesia
Praktik bandit hukum dan peradilan bisa dikatakan mengisi sejarah kemerdekaan Indonesia. Para pelakunya adalah para bandit yang melakukan tindak pidana dan para penyelenggaran negara yang berkhianat terhadap negara dan rakyat pada umum serta nurani kebenaran pada khususnya. Kisah Artalyta Suryani alias Ayin yang mendapat fasilitas hotel berbintang di Rutan Pondok Jambu hanyalah sebuah fenomena turun-temurun yang tidak pernah diselesaikan secara benar oleh penyelenggara negara, khususnya pasca reformasi 1998.
Seorang Ayin yang telah terbukti secara hukum merusak sistem hukum dengan menyuap dan mengintervensi kasus hukum Syamsul Nursalim, ternyata mendapat fasilitas super mewah bila dibanding dengan kondisi para tahanan rakyat jelata. Dengan uang Rp 200 juta, Ayin menyuap pihak Rutan Pondok Bambu untuk menyulap ‘ruang intropeksi diri’ (hakikat sejati dari penjara) menjadi ‘rumah pribadi’. Setelah itu, setiap bulan pihak Rutan mendapat setoran Rp 50 juta dari Ayin untuk ‘uang sewa’.Dengan uang Rp 50 juta per bulan tersebut, Ayin mendapat fasilitas serba mewah di dalam selnya, di antaranya AC portable, televisi layar datar, toilet duduk, double springbed, dan terkadang Ayin bisa memanggil dokter spesialis kulit ke selnya.
Ayin bukanlah satu-satunya orang ‘kuat’ di Indonesia. Mereka yang memiliki uang dan/atau relasi dengan petinggi negara termasuk dalam kasta ‘Ayin’. Di Rutan yang sama, Lien Marita alias Aling (kasus narkoba) mendapat fasilitas ‘hiburan malam’ berupa ruang karaoke. Yang menakjubkan, ruang karaoke itu berada di area ruang kerja Sarju Wibowo, Kepala Rumah Tahanan Negara Pondok Bambu.
Kisah dibalik istana penjara Ayin sebenarnya bukanlah hal yang mengejutkan. Diawal tahun 2000-an, para koruptor yang ditahan dapat dengan mudah melarikan diri ke luar negeri, menembus Rutan hingga petugas emigrasi di bandara. Hendra Raharja yang lari ke Australia, David Nusa Wijaya, Bambang Sutrisno, Andrian Kiki Ariawan, Djoko S Tjandra,  merupakan para bandit yang berhasil kabur atas servis yang diberi oleh pejabat negara yang bermental penghianat.
Kisah lainnya adalah koruptor Bob Hasan dan Rahardi Ramelan. Bob Hasan selama mendekam di Nusa Kambangan mendapat fasilitas mewah, satu tingkat dibawah Tommy Soeharto. Rahardi Ramelan, terpidana kasus korupsi Bulog. langsung mendapat remisi hanya setelah 2 hari masuk ke LP Cipinang. Namun, diantara itu semua, kasus yang paling fenomenal lainnya adalah Tommy Soeharto, mantan narapidana kasus pembunuhan  hakim agung M Syafiuddin Kartasasmita yang dibebaskan oleh pemerintah pada Oktober 2006.

KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa keadilan di Indonesia ini belum bisa ditegakkan dengan benar sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Hal ini disebabkan karena kualitas SDM indonesia yang rendah, akibatnya hukumpun bisa dibeli dengan uang. Untuk menanggulangi masalah tersebut maka diperlukan kerjasama dari berbagai elemen yang tentunya mempunyai SDM yang berkualitas agar segala kasus hukum di Republik Indonesia ini dapat terselesaikan.

Selasa, 24 April 2012

PERKELAHIAN ANTAR PELAJAR



PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Pengertian remaja (menurut Mappiare: 1982 dalam Ali Mohammad dan Mohammad Asrori) dalam bahasa aslinya disebut adolescence mencangkup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik yang mengatakan bahwa secara psikologis remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi terintegrasi kedalam masyarakat dewasa suatu usia, dimana anak tidak merasa bahwa dirinya berada dibawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar.
Bila kita membicarakan masalah remaja, tampaknya seperti tidak pernah selesai, seperti berbagai bentuk kenakalan remaja sebagai contoh adalah perkelahian antar pelajar yang akan dibahas dalam makalah ini.
Berikut adalah fenomena perkelahian antar pelajar
Liputan6.com, Bone: Dua kelompok siswa menengah atas di Bone, Sulawesi Selatan, saling lempar batu, Senin (5/4). Puluhan siswa Sekolah Tinggi Menengah Veteran Bone menyerang Madrasah Aliyah Negeri 1 Watampone saat jam pelajaran berlangsung. Siswa MAN 1 pun kaget dan melakukan perlawanan.
Tawuran berawal saat puluhan siswa STM Veteran mendatangi MAN 1 dan langsung melempar batu. Hal ini membuat para siswa yang sedang belajar kaget dan keluar untuk melawan. Saling kejar dan lempar batu pun tak terhindarkan. Aksi berhenti setelah polisi dari Markas Kepolisian Resor Bone tiba di lokasi kejadian. Polisi dibantu guru akhirnya membubarkan dua kelompok pelajar yang bertikai.
Tidak ada korban jiwa dalam aksi ini. Salah seorang pengendara motor yang melintas di Jalan Sukawati di lokasi kejadian juga terkena lemparan batu mengakibatkan kaca sepeda motor pecah. Sedangkan sejumlah kaca jendela sekolah MAN 1 Watampone pecah. Batu yang digunakan melempar pun masih berserakan hingga masuk ke dalam ruangan. Proses belajar-mengajar di sekolah itu seketika dihentikan.
Belum diketahui motif penyerangan karena saat peristiwa itu terjadi, siswa MAN 1 sedang mengikuti proses belajar-mengajar di kelas masing-masing. Namun, diduga penyerangan itu didasari dendam antarpelajar. Polisi mengamankan barang bukti berupa batu dan kaca jendela serta meminta keterangan siswa dan guru.(YNI/ANS). 05/04/2010 18:20


B.     PERUMUSAN MASALAH 
Dari latar belakang diatas dapat dibahas rumusan-rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa itu perkelahian antar pelajar?
2.      Faktor-faktor apa yang menyebabkan?
3.      Dampak dari perkelahian remaja itu apa?
4.      Bagaimana cara mengatasi?



PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN PERKELAHIAN ANTAR PELAJAR
Menurut Sofyan S, Willis (2005) perkelahian adalah merupakan suatu perbuatan yang mengganggu keamanan dan ketertiban umum, dimana perkelahian menunujukkan tindakan dari kedua belah pihak secara bersamaan. Sebagaimana kita ketahui bahwa perkelahian antar pelajar melibatkan beberapa orang pelajar yang turut serta baik dalam perkelahian maupun dalam penyerangan. Jadi, perkelahian antar pelajar adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh beberapa orang pelajar yang dilakukan secara beramai-ramai (massal), baik perbuatan tersebut dilakukan secara memukul, menendang, menusuk dengan pisau tumpul dan benda tajam yang mana semua itu dapat mengakibatkan rasa derita pada orang lain yang menjadi korban.

B.     PENYEBAB TERJADINYA PERKELAHIAN ANTAR PELAJAR
Menurut Kartono (1986) ada beberapa landasan teori tentang penyebab perkelahian antar pelajar, yaitu:
a.      Teori Biologis
Menekankan faktor nature sebagai penentu perkembangan manusia: kematangan, dasar-dasar biologis perilaku dan proses mental.
b.      Teori Psikologis
Teori ini menekankan sabab-sebab tingkah laku anak-anak dari aspek psikologis dan isi kejiwaannya antara lain faktor intelegensi, ciri kepribadian, motivasi, sikap-sikap yang salah, fantasi, resonalisasi yang keliru, konflik batin,emosi yang kontroversi, kecenderungan psikologis, dll.
c.       Teori Sosiogenesis
Tingkah laku pada anak-anak remaja ini adalah murni sosiologis atau sosial-psikologis misalnya disebabkan oleh pengaruh stuktur sosial yang deviatif, tekanan kolompok, peran sosial, status sosial atau iinternalisasi simbolis yang keliru maka faktor-faktor kultural dalam sosial itu sangat mempengaruhi, status individu ditengah kelompoknya, partisipasi sosial dan pendefinisian diri atau konsep diri.
d.      Teori Subkultur
Mengkait sistem nilai, kepercayaan/keyakinan, ambisi-ambisi tertentu (misalnya ambisi materiil, hidup bersantai, pola kriminal, relasi heteroseksual bebas, dll) yang memotivasi timbulnys kolompok-kelompok remaja berandal dan kriminal. Sedang perangsangnya bisa berupa mendapatkan status sosial “terhormat” ditengah kelompoknya, prestise sosial, relasi sosial, dan hadiah-hadiah materiil lainnya.
Menurut DR. Sofyan S. Wilis, M.Pd dalam bukunya Remaja Dan Masalahnya (2005) ada beberapa faktor penyebab perkelahian antar pelajar, yaitu:
1.      Faktor yang ada di dalam diri pelajar sendiri
a.       Lemahnya Pertahanan Diri
Adalah faktor yang ada dalam diri untuk mengontrol dan mempertahankan diri terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari lingkungan. Jika ada pengaruh negatif berupa tontonan negatif, bujukan negatif seperti pecandu dan pengedar narkoba, ajakan-ajakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan negatif, sering tidak bisa menghindar dan mudah terpengaruh. Akibatnya pelajar itu terlibat ke dalam kegiatan-kegiatan negatif yang membahayakan dirinya dan masyarakat.
b.      Kurangnya Kemampuan Dalam Menyesuaikan Diri
Keadaan ini amat terasa di dunia pelajar. Banyak ditemukan pelajar yang kurang pergaulan. Inti persoalannya adalah ketidak mampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial,dengan mempunyai daya pilih teman bergaul yang membantu pembentukan perilaku positif. Anak-anak yang terbiasa dengan pendidikan kaku dan dengan disiplin ketat di keluarga menyebabkan masa remajanya juga kaku dalam bergaul, dan tidak pandai memilih teman yang bisa membuat dia berkelakuan baik. Yang terjadi adalah sebaliknya yaitu, para pelajar salah bergaul. Hal ini bisa terjadi karena teman-temannya menghargainya. Karena mendapat penghargaan di kelompok geng nakal, pelajar itupun akan ikut nakal.
c.       Kurangnya Dasar-dasar Keimanan di Dalam Diri Pelajar
Masalah agama merupakan suatu yang sangat krusial bagi seorang pelajar. Karena agama merupakan benteng diri pelajar dalam menghadapi berbagai cobaan yang datang padanya sekarang dan masa yang akan datang.
Sekolah dan orang tua harus bekerja sama bagaimana memberikan  pendidikan agama secara baik, mantap, dan sesuai dengan kondiri pelajar saat ini.
2.      Faktor Keluarga
Keluarga merupakan sumber utama atau lingkungan yang utama penyebab kenakalan remaja salah satunya yaitu perkelahian antar pelajar ini. Hal ini disebabkan karena anak itu hidup dan berkembang permulaan sekali dari pergaulan keluarga yaitu hubungan antara orang tua dengan anak, ayah dengan ibu dan hubungan anak dengan anggota keluarga lai yang tinggal bersama-sama. Keadaan keluarga yang besar jumlah anggotanya berbeda dengan keluarga kecil. Bagi keluarga besar pengawasan agak sukar dilaksanakan dengan baik, demikian juga menanamkan disiplin terhadap masing-masing anak. Berlainan dengan keluarga kecil, pengawasan dan disiplin dapat dengan mudah dilaksanakan. Disamping itu perhatian orang tua terhadap masing-masing anak lebih mudah diberikan, baik mengenai akhlak, pendidikan di sekolah, pergaulan dan sebagainya. Kalau kita berbicara keadaan ekonomi, tentu bagi keluarga besar dengan penghasilan yang sedikit akan repot, karena membiayai kehidupan yang pokok-pokok saja agak sulit apalagi untuk biaya sekolah dan berbagai kebutuhan lain. Karena itu sering terjadi pertengkaran diantara istri dan suami karena masalah ekonomi keluarga, yang menyebabkan kehidupan keluarga menjadi tidak harmonis lagi dan pada gilirannya mempengaruhi tingkah laku anak kearah negatif.
DR. Sofyan S. Wilis, M.Pd dalam bukunya Remaja dan masalahnya mengemukakan beberapa faktor keluarga yang sangat mempengaruhi terhadap kenakalan remaja yaitu :
1.      Anak kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian orang tua.
2.      Lemahnya keadaan ekonomi orang tua.
3.      Kehidupan keluarga yang tidak harmonis.
Dalam masalah kenakalan remaja khususnya mengenai perkelahian antar pelajar, rumah tangga menjadi sorotan utama, pengaruh-pengaruh buruk dalam lingkungan keluarga dapat menodorong anak remaja melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, diantara pengaruh itu termasuk kondisi keluarga seperti antara lain :
1.      Kemiskinan dan jumlah anggota yang besar.
2.      Rumah tangga yang berantakan karena kematian salah satu dari orang tua, perpisahan ibu dan ayah, perceraian atau karena melarikan diri dari rumah.
3.      Kurangnya kemanan jiwa disebabkan orang tua yang terus bertengkar.
4.      Tidak terdapt persesuaian pendidikan, disiplin dan tujuan hidup yang dicita-citakan oleh orang tua untuk anaknya.
5.      Orang tua tidak menaruh perhatian terhadap anak, tidak sempat menanamkan kasih sayang, dan tidak pula dapat menyatakan penghargaan atas prestasi yag diperoleh anak di sekolah.
Dari pernyataan di atas dapat dimengerti betapa pentingnya peranan orang tua terhadap pendidikan anaknya, karena orang tualah yang memberikan dasar yang fundamnetal terhadap pendidikan anak. Tidak adanya orang tua yang membimbing anak atau orang tua yang mengabaikan pendidikan anak yang mengakibatkan anak tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dikerjakan. Apabila ini tidak dapat dipenuhi maka kemungkinan besar seorang anak akan menjadi nakal.
Tidak hanya kurangnya perhatian orang tua dan keadaan keluarga yang tidak harmonis saja yang menjadi faktor penyebab kenakalan remaja, tetapi juga perhatian orang tua yang berlebihan di dalam keluarga juga mempunyai pengaruh yang tidak baik terhadap perkembangan anak dalam pembentukan kepribadian dan bertingkah laku, ia menjadi nakal dan melakukan perbuatan-perbuatan yang a susila.
Bila orang tua terlalu banyak melindungi dan memanjakan serta menghindarkan mereka dari berbagai kesulitan atau ujian hidup yang kecil, anak-anak menjadi rapauh dan mereka selalu bergantung pada bantuan orang tua serta merasa cemas, bimbang dan ragu. Kepercayaan diri menjadi hilang tanpa bisa menemukan motivasi yang kuat untuk hidup. Sebagai akibatnya adakalanya anak melakukan identifikasi total terhadap kelompoknya dan tidak sadar melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang mana akibatnya tudak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga mengganggu ketertiban dan keamanan umum seperti suka berkelahi.
3.      Faktor Lingkungan Yang Tidak Kondusif
Pengaruh sosial dan kultur memegang peranan yang besar dalam menentukan perkembangan seorang anak dalam bertingkah laku. Kenakalan pada remaja dimana dalam hal ini mereka sangat terpengaruh oleh keadaan sosial yang buruk sehingga si anak menjadi nakal. Pengaruh lingkungan pergaulan yan buruk ditambah kontrol sosial dan kontrol diri yang semakin lemah maka dapat mempercepat pertumbuhan kelompok-kelompok anak nakal yang suka melakukan kegiatan-kegiatan yang bertentangan  dengan hukum sepert beramai-ramai atau secara massal.
Milieau atau lingkungan sekitar tidak selalu baik, dan menguntungkan bagi pendidikan dan perkembangan anak, lingkungan  yang ada kalanya dihuni oleh orang dewasa serta anak-anak muda kriminil dan anti sosial yang bisa merangsang timbulnya reaksi emosional buruk bagi anak-anak remaja atau pelajar yang masih labil jiwanya. Dengan begitu anak-anak remaja ini mudah terjangkit oleh pola tingkah laku kriminal, asusila dan anti sosial.
Kelompok orang dewasa yang kriminil dan a susila tersebut itu sangat berpengaruh terhadap anak remaja khususnya pelajar yang berada di lingkungan tersebut untuk berbuat dan bertingkah laku seperti meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang dewasa yang anti soial dan kriminal, seperti sering membuat keributan dan senang berkelahi.
4.       Faktor Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan tempat pendidikan kedua setelah rumah tangga. Karena itu ia cukup berperan dalam membina anak untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab. Khusus mengenai tugar kurikuler, maka sekolah berusaha memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didiknya sebagai bekal untuk kelak jika anak telah dewasa dan terjun ke masyarakat. Akan tetapi tugas kurikuler saja tidaklah cukup untuk membina anak menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab. Karena itu sekolah bertanggung jawab pula dalam kepribadian anak didik. Dalam hal ini peranan guru sangat diperlukan sekali. Jika kepribadian guru buruk, dapat dipastikan akan menular kepada anak didik.
Hal ini dikatakan oleh ahli psiko higenis yaitu (Bernard  1961;113 dalam Sofyan S. Wilis) sebagai berikut : ” Teacher personality is contagious, if he is tense, irritable, dominating or careless, the pupil will show the evidence of tension, crossness, and lack of social grace and will produce slovenly work “.
Artinya: perilaku guru yang buruk seperti tegang, marah, mudah tersinggung, menguasai murid, maka para murid akan tertular oleh sifat dan perilaku guru tersebut.
Dalam rangka pembinaan anak didik kearah kedewasaan itu, kadang-kadang seklah juga penyebab dari timbulnya kenalan remaja . Hal ini mungkin bersumber dari guru, fasilitas pendidikan, norma-norma tingkah laku, kekompakan guru dan suasana interaksi antara guru dan murid perlu menjadin perhatian serius. Ada bebapa faktor yang berhubungan dengan lingkungan sekolah yang tidak menyenangkan seorang anak pelajar.
a.      Faktor Guru
Dedikasi guru merupakan pokok terpenting dalam tugas mengajar. Guru yang penuh dedikasi berarti guru yang ikhlas dalam mengerjakan tugasnya. Bila terjadi kesulitasn di dalam tugasnya, ia tidak mudah mengeluh dan mengalah. Melainkan dengan penuh keyakinan diatasinya semua kesulitan tersebut. Berlainan dengan guru yang tanpa dedikasi. Ia bertugas karena terpaksa, sebab tidak ada lagi pekerjaan lain yang mampu dikerjakannya. Akibatnya ia mengajar adalah karena terpaksa dengan motif mencari uang. Guru yang seperti ini mengajarnya asal saja, sering bolos, tidak berminat meningkatkan pengetahuan keguruannya. Akibatnya murid-murid yang menjadi korban, kelas menjadi kacau, murid-murd berbuat seenaknya saja di dalam kelas dan hal seperti inilah yang merupakan sumber kenakalan, sebab guru tidak memberikan perhatian yang penuh kepada tugasnya.
Kehidupan sekolah telah pula direkayasa untuk mengejar ketinggalannya dalam perkembangan ilmu dan teknologi. Pertama, kurikulum dirombak sedemikian rupa dengan tujuan agar tercapai para lulusan sekolah yang berkualitas. Kenyataannya, pengertian kualitas itu adalah tingginya tingkat intelektual atau kecerdasan yang diukur dengan hasil belajar dalam bidang seni. Para siswa direkayasa agar belajar keras untuk mengejar target kurikulum. Suasana belajar menjadi sangat intelektualistis yaitu lebih menghargai anak yang pandai. Guru terperangkap dalam sistem birokrasi sekolah sehingga mengajarnya cenderung mekanistik yang mementingkan tercapainya target kurikulum. Untuk mencapai tujuan itu, siswa perlu dikontrol dengan memperketat terlaksananya aturan sekolah, bahkan meningkatkan sistem keamanan sekolah dengan adanya Satpam, bagian keamanan dan piket guru, dan dibantu oleh bagian keamanan dari siswa.   
b.      Guru Pembimbing/BK
Peran guru sebagai pembimbing merupakan dambaan dari setiap siswa. Kenakalan remaja bersumber pada hilangnya makna keberadaan diri siswa ditengah galau pembangunan di segala bidang. Rasa keterasingan, frustasi, konflik dan stress berkecamuk pada diri mereka, dan penyalurannya adalah kenakalan. Jika guru pembimbing/BK mampu melaksanakan harapan siswa yakni mengutamakan membimbing daripada mengajar, besar kemungkinan kenakalan dapat dikurangi. Sebagai pembimbing, guru harus memnuhi syarat kepribadian, dan sedikit ilmu tentag pribadi siswa, serta kemampuan berkomunikasi atau keterampilan konseling.
Mengenai kemampuan guru dibidang bimbingan dan konseling ( BK ) masih memprihatinkan. Kebanyakan mereka beranggapan bahwa BK itu adalah urusan guru yang dikhususkan dibidang tersebut, yaitu guru BK. Berhubung guru BK amat terbatas jumlahnya,maka jalan keluar adalah : semua guru harus berperan sebagai pembimbing.
Guru BK juga harus menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pembimbing yang profesional dalam menghadapai berbagai kemelut yang terjadi pada setiap pribadi siswa, tanggap dalam mencari solusi terhadap permasalahan siswa tersebut serta membuat suatu program kerja secara kontinyu dalam pembinaan siswa agar kondisi anak terpantau. Bukan hanya sekedar menjalankan tugas saja namun keberadaannya sama sekali tidak dirasakan oleh para pelajar tersebut.
c.       Fasilitas Pendidikan
Kurangnya fasilitas pendidikan menyababkan penyaluran bakat dan keinginan pelajar terhalang. Bakat dan keinginan yang tidak tersalur pada masa sekolah, mungkin akan mencari penyaluran kepada kegiatan-kegiatan yang negatif. Misalnya bermain di jalanan umum, di pasar, di mall dan sebagainya yang mungkin  akan berakibat buruk terhadap anak. Kekurangan fasilitas pendidikan yang lain seperti alat-alat pelajaran, alat-alat praktik, alat kesenian dan olagraga, juga dapat merupakan sumber gangguan pendidikan yang juga mengakibatkan terjadinya berbagai tingkah laku negatif pada anak didik.


4.     DAMPAK PERKELAHIAN ANTAR PELAJAR
Dampak positif
1.      Menimbulkan keberanian, karena tidak takut akan sesama pelajar.
2.      Penghargaan ”rasa terhormat” terhadap seorang pelajar pada suatu kelompok  pelajar yang berkelahi.
Dampak Negatif
1.      Bagi pelajar
·         Akan dijauhi teman.
·         Menimbulkan luka fisik.
·         Tindak pidana jika mengakibatkan luka fisik maupun kematian pada seseorang.


2.      Bagi keluarga
·         Rasa malu terhadap tetangga sekitar karena ulah salah satu anggota keluarga.
·         Keluarga mendapat teguran dari dari pihak sekolah, masyarakat maupun kepolisian.
3.      Bagi Sekolah
·         Kerugian materiil yang mungkin timbul seperti rusaknya gedung sekolah maupun peralatan lain akibat dari pelemparan benda dari pihak lain.
·         Kerugian yang menyangkut nama baik sekolah dalam masyarakat maupun aparat keamanan, yakni timbulnya kesan sekolah urakan dan menjadi pengawasan dari pihak yang berwajib.
4.      Bagi Masyarakat
·        Akibat yang langsung dialami oleh masyarakat dari perkelahian antar pelajar itu adalah terganggunya ketertiban dan keamanan di lingkungan sekitarnya. Kemudian apabila frekuensi kenakalan remaja dan perkelahian antar pelajar demikian tinggi maka tidak mustahil kindisi dan situasi lingkungan masyarakat yang rawan yang memungkinkan timbulnya bibit baru remaja yang nakal.


5.     SOLUSI
1.      Di Lingkungan Keluarga
·         Orang tua menciptakan kehidupan rumah tangga yang beragama.
Artinya membuat suasana rumah tangga atau keluarga menjadi kehidupan yang bertaqwa dan taat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
·         Menciptakan kehidupan keluarga yang harmonis.
Dimana hubungan antara Ayah, Ibu dan anak tidak terdapat percekcokan atau pertentangan. Hal ini dapat dilakukan  dengan memberikan waktu terluang  untuk berkumpul bersama anak-anak misalnya diwaktu makan bersama. Di waktu makan bersama itu sering keluar ucapan-ucapan dan keluhan-keluhan anak secara spontan. Spontanitas itu amat penting bagi orang tua sebagai bahan pertimbangan untuk memahami diri anak-anaknya.
·         Adanya kesamaan norma-norma yang dipegang antara ayah, ibu dan keluarga lainnya di rumah tangga dalam mendidik anak-anak.
·         Memberikan kasih sayang secara wajar kepada anak-anak.
·         Memberikan perhatian yang memadai terhadap kebutuhan anak-anak.
·         Memberikan pengawasan secara wajar terhadap pergaulan anak remaja di lingkungan masyarakat
2.      Di Lingkungan Sekolah
·         Memberikan pengawasan secara wajar terhadap pergaulan anak remaja di lingkungan masyarakat.
·         mengintensifikasikan pelajaran agama bagi pelajar.
·         Mengintensifikasikan bagian Bimbingan Konseling (BK) di sekolah dengan cara mengadakan Tenaga ahli atau menatar guru-guru untuk mengelola bagian ini.
·         Adanya kesamaan norma-norma yang dipegang oleh guru-guru, hal ini akan menimbulkan kekompakan  dalam membimbing murid-murid. Adanya kekompakan itu akan menimbulkan kewibawaan guru di mata murid-murid, dan sekaligus memperkecil timbulnya kenakalan.
·         Melengkapi fasilitas sekolah, yaitu seperti gedung, laboratorium, mesjid, alat-alat pelajaran, alat-alat olah raga dan kesenian, alat-alat ketrampilan, dan sebagainya. Dengan lengkapnya fasilitas tersebut akan dapat digunakan untuk mengisi waktu terluang misalnya selama libur sekolah. Di samping itu dapat pula menembangkan bakat murid-murid dalam rangka menuju hidup berwiraswasta danberdikari nantinya setelah mereka terjun ke masyarakat.
3.      Di Lingkungan Masyarakat
·         Kegiatan-kegiatan atau organisasi masyarakat yang positif yang membantu kearah tercapainya tujuan pendidikan, contohnya Palang Merah Remaja (PMR), organisasi Karang Taruna, organosasi olahraga, dll.



PENUTUP

KESIMPULAN
Dari uraian diatas tentang “Perkelahian Antar Pelajar” dapat disimpulkan bahwa:
1.      Perkelahian antar pelajar disebabkan oleh beberapa faktor baik internal maupun eksternal.
2.      Perkelahian antar pelajar mempunyai dampak positif maupun negatif.
3.      Untuk mengatasi kasus diatas maka diperlukan kerjasama antara berbagai elemen.


DAFTAR PUSTAKA

Gunarsa, Singgih D dan N. Y. Singgih D. Gunarsa. 1983. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.

Wilis, Sofyan S. 2005. Remaja dan Masalahnya. Bandung: Alfabeta.

Ali, Mohammad dan Mohammad Asrori. 2008. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.

Tawuran.Antarpelajar.Kaca.Sekolah.Pecah.htm (dinduh pada tanggal 18 Mei 2001 Pukul 20.13 WIB).

Kartono, Kartini. 1986. Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawali.

Tawuran.Antarpelajar.Kaca.Sekolah.Pecah.htm (dinduh pada tanggal 18 Mei 2001 Pukul 20.13 WIB).